Intimidasi Atasan: Melawan Budaya “Asal Bapak Senang” yang Membungkam Kritisnya Suara Guru
Intimidasi terhadap guru tidak selalu berupa bentakan; ia sering hadir dalam bentuk yang lebih halus, namun mematikan kreativitas.
Wajah-Wajah Intimidasi di Sekolah
-
Hambatan Administrasi: Penundaan tanda tangan penilaian kinerja (e-Kinerja) atau penghambatan pengurusan kenaikan pangkat sebagai “hukuman” atas sikap yang tidak sejalan.
-
Pengucilan Profesional: Guru yang berani bersuara tidak lagi dilibatkan dalam kepanitiaan strategis atau pelatihan-pelatihan penting, sehingga karier mereka stagnan.
Dampak Buruk: Sekolah Menjadi “Pabrik” Robot
Ketika budaya ABS mendominasi, sekolah kehilangan ruhnya sebagai lembaga intelektual.
-
Inovasi Mati: Guru lebih memilih mengikuti cara lama yang aman daripada mencoba metode baru yang mungkin dikritik oleh atasan.
-
Guru Menjadi Apatis: Suara guru yang dibungkam akan berubah menjadi sikap masa bodoh. “Yang penting datang, absen, dan pulang,” menjadi prinsip bertahan hidup.
-
Siswa Menjadi Korban: Jika gurunya tidak berani bersuara kritis, bagaimana mungkin mereka bisa mengajarkan siswanya untuk berpikir kritis? Ketakutan guru akan menular pada iklim belajar di kelas.
Mengapa Budaya ABS Masih Bertahan?
Masalah ini berakar pada sistem penunjukan kepala sekolah yang terkadang masih kental dengan unsur politis atau kedekatan personal, bukan semata-mata karena kompetensi kepemimpinan. Hal ini menciptakan rasa “berkuasa penuh” bagi atasan dan rasa “berutang budi” atau “takut” bagi bawahan.
Melawan dengan Profesionalisme
Melawan intimidasi bukan berarti menjadi pembangkang tanpa alasan. Guru perlu memperkuat posisi mereka dengan cara:
-
Penguasaan Regulasi: Guru harus paham hak-haknya yang dilindungi undang-undang. Pengetahuan tentang UU Guru dan Dosen serta Kode Etik adalah senjata utama melawan kebijakan atasan yang sewenang-wenang.
-
Solidaritas Kolektif: Jangan berjuang sendiri. Suara satu guru mudah dipatahkan, namun suara kolektif dalam wadah seperti PGRI atau komunitas praktisi akan lebih sulit untuk diabaikan.
-
Kepemimpinan Instruksional: Kepala sekolah harus disadarkan bahwa peran mereka adalah leader, bukan boss. Seorang pemimpin hebat justru merasa bangga jika stafnya memiliki pemikiran kritis yang bisa membangun sekolah.
Kesimpulan
Sekolah harus menjadi laboratorium demokrasi pertama bagi generasi muda. Jika di dalam ruang gurunya saja masih kental dengan praktik intimidasi dan budaya asal bapak senang, maka mimpi tentang “Merdeka Belajar” hanyalah isapan jempol.
Sudah saatnya kita mengakhiri era kepemimpinan tangan besi di sekolah. Mari dukung guru untuk kembali berani bersuara, berani mengkritik, dan berani berinovasi demi pendidikan yang lebih manusiawi.

